Minggu, 19 Oktober 2014

                                            Chapter#2

                                                  Petuah Paman Surya


     Malam sunyi selepas sholat isya berjama’ah di musholah kecil di sudut rumah paman surya yang berwarna dasar cokelat kemerahan, tanpa pintu, tanpa jendela, dengan atap berbentuk kubah. Paman mengumpulkan ke enam anak asuh lelakinya diteras musholah miliknya. 

Bersama buaian angin malam yang berhembus merayu, dan cahaya rembulan yang terang benderang karena sedang purnama. Vino dan ke lima saudara lelakinya yang lain dinasehati paman Surya.

    “Nak… Paman tau rasa duka kalian, tapi cobalah kalian ingat dan resapi kisah nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wa salam.” Tutur paman Surya
    “Kisah yang mana paman? Kisah baginda Rosululloh kan ada banyak.” Jawab Nono.
    “Kisah baginda rosul bersama nenek buta beragama yahudi …” Lanjut Paman   
    “Sepertinya paman belum pernah cerita.” Jawab Pomo
    “Coba ceritakan paman…” pinta Yono
    “mm.. jadi saat baginda Rosul masih hidup Ia senantiasa membawa makanan, mengunyahkan makanan tersebut, dan menyuapkannya kepada seorang nenek buta yang merupakan seorang pengemis dipasar...nenek ini beragama yahudi..”
    “Lalu paman ?” Tanya Pono
    “Tapi nenek buta ini selalu saja mencerca, menfitnah, dan mengatakan hal yang tidak baik tentang orang yang sedang menyuapinya …”Lanjutnya.
    “Berarti nenek itu menghina baginda Rosul,padahal beliau sedang menyuapinya?” Tanya Pomo. 
    “Tepat…!” jawab paman dengan tegas.
    “Lalu apakah kami juga harus mengikuti baginda Rosululloh?” Tanya Vino.
    “Karena baginda Rosul adalah penuntun kita, maka sebisa mungkin kita harus mengikutinya.” Tambah paman.
    “Aku tak yakin paman…” Jawab Vino
    “Mengapa tidak?” Tanya paman.
    “Entahlah paman” lanjut Vino dengan wajah tertunduk
    “Belajarlah sabar, syukur dan ikhlas lah, nak..” Jawab paman.
    “iya paman, akan ku coba” balas Vino.
    “Perlu dilanjutkan nda ceritanya?” Tanya paman.
    “Lanjutkan paman, lanjutkan..” jawab Nono dan Pomo.
    “Kemudian setelah Rosululloh wafat, sahabat Abu Bakar As-shidiq rodiallohu anhu menggantikan  rosululloh menyuapi nenek buta itu disuatu pagi dipasar dan tempat yang sama. Dan nenek itu masih terus mengatakan hal yang buruk tentang baginda Rosul kepada orang-orang yang berlalu lalang dipasar”
    “Lalu paman?” Tanya Pomo.
    “Karena nenek itu pun merasa ada yang berbeda, dan nenek itu pun langsung bertanya pada sahabat Abu Bakar rodiallohu anh. Siapa kamu? Kamu tak seperti Ia yang biasa menyuapiku dengan lembut.”  Paman menghela nafas.
   “ Lalu sahabat Abu Bakar pun menjawab wahai nenek, benar aku bukan orang yang biasa menyuapimu. Ia sudah meninggal dan aku berusaha melanjutkan apa yang Ia lakukan. Dan nenek itu bertanya lagi, memang sebenarnya siapa orang yang biasa menyuapiku itu. Lalu sahabat Abu Bakar menjawab, nenek, sesungguhnya orang yang biasa menyuapimu itu adalah orang yang selama ini kau caci maki, kau hina, dan kau bilang gila.”
    “Lalu bagaimana reaksi nenek itu paman?”  Tanya Iyat.
    “Nenek itu menangis dan seketika itu mengucapkan syahadat,kurang lebih seperti itulah kisah nenek buta dan baginda Rosul, nah ayo siapa yang mau memberi pendapat tentang cerita ini?” Tanya paman
    “Kesabaran Rosululloh itu sangat luar biasa yah…” jawab Nono
    “Rosul turun kemuka bumi ini kan memang untuk membenahi akhlak manusia” sahut Iyat.
    “Apa itu jua yang membuat baginda Rosul dikatakan bulan purnama di malam yang gelap gulita, paman?” Tanya Ardi
    “Mungkin saja” sahut paman

Sunyinya malam dan obrolan mereka pun terpecah saat anak perempuan mungil bernama Enggar menyampaikan pesan dari bibi untuk mengajak mereka semua untuk makan malam.

Kamis, 16 Oktober 2014

    *hanya untuk mengisi blog*

                                                               chapter#1
                                                             kami ini apa?

September 2002

     Dan dialah bocah lelaki kelas 5 sekolah dasar yang kurus dan berwajah gahar bernama Vino Khasan.
Ia tinggal bersama 6 anak yang senasib dengannya disebuah panti asuhan dibilangan kembangan, suatu daerah dipinggiran ibukota.

    Bersama sepasangan suami istri yang kira-kira telah merajut tali kasih selama 15 tahun ini, Vino berikut ke enam sahabat senasib sepenanggunangnya inilah ia tinggal. Mungkin karena rumah Paman dan Bibi Surya ini yang terlalu luas atau barangkali karena kehidupan mereka yang tak di amanahi seorang buah hati sehingga Vino dan kawan-kawan dengan senang hati mereka tampung dirumah megah ini.

    Vino dan Ardi adalah siswa kelas 5 di Sekolah Dasar Negeri 03 pagi kembangan selatan, sedangkan Pomo, Iyat dan  Yoyo  masih duduk dikelas 3. Dari tahun ke tahun pasti ada saja kisah perkelahian mereka dengan anak lain yang menghardik mereka dengan cercaan anak haram, anak yang dibuang, anak tidak jelas, dan lain sebagainya.

    Suatu sore dengan mega-mega jingga ditepian langit kembangan, di iringi semilir angin sore yang berhembus menyapa. Kala itu selepas Yoyo dan Iyat berkelahi membeladiri dari pertarungan tak imbang, bersama tujuh anak sekelasnya. Para orang tua dari bocah-bocah penghujat itu pun mendatangi panti dan kembali menghujat Paman Surya.

    “Pak surya! itu anak-anak asuhan nya diajarin dong biar jadi manusia yang bener.” kata salah satu dari mereka dengan nada tinggi dari depan pagar.

    “Memang mereka melakukan apa ?” jawab paman dengan senyumnya.

    “Liat nih anak-anak kita, dibikin lecet dan luka-luka.” Sahut yang lain menghampiri paman yang sedang duduk diteras.

    “Yoyo….Iyat… kesini sebentar nak..” Panggil paman pada Yoyo dan Iyat
Yoyo dan Iyat yang juga babak berur dikeroyok tujuh anak yang telah mencerca mereka itu pun keluar dari kamar, dengan darah yang baru saja dibersihkan oleh Bibi mereka menyambangi Paman Surya dan tamu-tamunya di teras depan.
   
   “Iya paman..” keduanya berjalan dengan tertunduk

     “Bapak bisa lihat apakah dua anak ini terlihat sebagai pemicu perkelahian? Mereka juga terluka sama seperti anak bapak-bapak sekalian, tapi rasa sakit mereka berbeda. Kesakitan mereka jauh lebih abadi dan terkungkung didalam hati mereka yang terdalam.” Tutur paman dengan lembut.    “Siapa peduli… mereka hanya anak yang dibuang, ANAK HARAM !” jawab salah satu dari mereka dengan menghentak. “kami ngga mau tau, pak surya harus mendidik mereka agar jadi manusia…” sambungnya.

    “Jadi kalian fikir kami bukan manusia ?!” Teriak Vino dari kamarnya yang berada didekat teras, ternyata sejak awal Vino menahan diri dan hanya menjadi pendengar yang baik dari kamarnya. Namun kini emosinya sudah tak terbendung.

 Dan vino pun menuju teras dengan wajahnya yang sejak dulu sudah terlihat gahar.

    “Lalu kami ini apa ?” tambah vino dengan wajahnya yang memerah.

    “Eiy… bocah jangan ikut-ikutan lu..!!” Sahut seorang pemuda yang mungkin kaka dari salah satu anak yang terlibat perkelahian dengan Yoyo dan Iyat.

    “vin…yoyo…iyat masuk kamar …” perintah paman dengan nada lembut.

Dan mereka bertiga pun memasuki kamar dengan hati yang begitu murka. Mungkin kini mereka hanya bocah yang bisa dengan mudah disakiti baik hati, fisik, maupun psikis nya. Tapi siapakah yang dapat menerka apa yang akan terjadi dimasa depan nanti.

    “ jadi menurut anda sekalian mereka bukanlah manusia?” pertanyaan retoris paman pada para tamunya dengan wajah yang mulai kaku.

Dan tak ada yang berani menjawab pertanyaan paman surya itu.  

    “ Baiklah Bapak-bapak dan ade-ade sekalian saya memohon maaf atas kesalahan anak-anak saya, saya akan menasihati mereka semampu saya.” Paman merendah.

    “Yasudah kalau begitu kami pamit dulu, assalamualaykum…” kata seorang yang sejak tadi hanya tertegun dan tak berbicara apapun.

    “Belum juga minum, sudah pada pamit.” Teriak bibi menuju teras, tempat paman meladeni tamu-tamunya yang datang tanpa mengucap salam.

    “Tak perlu bu surya… sudah hampir maghrib…” Lanjut orang tadi.

    “Oh.. yasudah wa alaykumussalam..” Jawab Bibi. 

  Beriring lantunan ayat-ayat suci al-qur'an yang dibacakan seorang marbot masjid, yang diperuntukkan untuk menyambut waktu sholat maghrib,Para tamu tamu paman menuju rumah mereka masing-masing.angin begitu semilir kala itu.Seakan berusaha untuk meredam amarah anak- anak asuh paman surya.

Kamis, 09 Oktober 2014


inilah sekumpulan foto kenalan, teman, kawan, dan sahabat sahabat gue. yang gue satuin dalam lagu OHAYOU dari KENO, band jepang yang lagunya dijadiin lagu tema dari anime HUNTERXHUNTER...