Kamis, 16 Oktober 2014

    *hanya untuk mengisi blog*

                                                               chapter#1
                                                             kami ini apa?

September 2002

     Dan dialah bocah lelaki kelas 5 sekolah dasar yang kurus dan berwajah gahar bernama Vino Khasan.
Ia tinggal bersama 6 anak yang senasib dengannya disebuah panti asuhan dibilangan kembangan, suatu daerah dipinggiran ibukota.

    Bersama sepasangan suami istri yang kira-kira telah merajut tali kasih selama 15 tahun ini, Vino berikut ke enam sahabat senasib sepenanggunangnya inilah ia tinggal. Mungkin karena rumah Paman dan Bibi Surya ini yang terlalu luas atau barangkali karena kehidupan mereka yang tak di amanahi seorang buah hati sehingga Vino dan kawan-kawan dengan senang hati mereka tampung dirumah megah ini.

    Vino dan Ardi adalah siswa kelas 5 di Sekolah Dasar Negeri 03 pagi kembangan selatan, sedangkan Pomo, Iyat dan  Yoyo  masih duduk dikelas 3. Dari tahun ke tahun pasti ada saja kisah perkelahian mereka dengan anak lain yang menghardik mereka dengan cercaan anak haram, anak yang dibuang, anak tidak jelas, dan lain sebagainya.

    Suatu sore dengan mega-mega jingga ditepian langit kembangan, di iringi semilir angin sore yang berhembus menyapa. Kala itu selepas Yoyo dan Iyat berkelahi membeladiri dari pertarungan tak imbang, bersama tujuh anak sekelasnya. Para orang tua dari bocah-bocah penghujat itu pun mendatangi panti dan kembali menghujat Paman Surya.

    “Pak surya! itu anak-anak asuhan nya diajarin dong biar jadi manusia yang bener.” kata salah satu dari mereka dengan nada tinggi dari depan pagar.

    “Memang mereka melakukan apa ?” jawab paman dengan senyumnya.

    “Liat nih anak-anak kita, dibikin lecet dan luka-luka.” Sahut yang lain menghampiri paman yang sedang duduk diteras.

    “Yoyo….Iyat… kesini sebentar nak..” Panggil paman pada Yoyo dan Iyat
Yoyo dan Iyat yang juga babak berur dikeroyok tujuh anak yang telah mencerca mereka itu pun keluar dari kamar, dengan darah yang baru saja dibersihkan oleh Bibi mereka menyambangi Paman Surya dan tamu-tamunya di teras depan.
   
   “Iya paman..” keduanya berjalan dengan tertunduk

     “Bapak bisa lihat apakah dua anak ini terlihat sebagai pemicu perkelahian? Mereka juga terluka sama seperti anak bapak-bapak sekalian, tapi rasa sakit mereka berbeda. Kesakitan mereka jauh lebih abadi dan terkungkung didalam hati mereka yang terdalam.” Tutur paman dengan lembut.    “Siapa peduli… mereka hanya anak yang dibuang, ANAK HARAM !” jawab salah satu dari mereka dengan menghentak. “kami ngga mau tau, pak surya harus mendidik mereka agar jadi manusia…” sambungnya.

    “Jadi kalian fikir kami bukan manusia ?!” Teriak Vino dari kamarnya yang berada didekat teras, ternyata sejak awal Vino menahan diri dan hanya menjadi pendengar yang baik dari kamarnya. Namun kini emosinya sudah tak terbendung.

 Dan vino pun menuju teras dengan wajahnya yang sejak dulu sudah terlihat gahar.

    “Lalu kami ini apa ?” tambah vino dengan wajahnya yang memerah.

    “Eiy… bocah jangan ikut-ikutan lu..!!” Sahut seorang pemuda yang mungkin kaka dari salah satu anak yang terlibat perkelahian dengan Yoyo dan Iyat.

    “vin…yoyo…iyat masuk kamar …” perintah paman dengan nada lembut.

Dan mereka bertiga pun memasuki kamar dengan hati yang begitu murka. Mungkin kini mereka hanya bocah yang bisa dengan mudah disakiti baik hati, fisik, maupun psikis nya. Tapi siapakah yang dapat menerka apa yang akan terjadi dimasa depan nanti.

    “ jadi menurut anda sekalian mereka bukanlah manusia?” pertanyaan retoris paman pada para tamunya dengan wajah yang mulai kaku.

Dan tak ada yang berani menjawab pertanyaan paman surya itu.  

    “ Baiklah Bapak-bapak dan ade-ade sekalian saya memohon maaf atas kesalahan anak-anak saya, saya akan menasihati mereka semampu saya.” Paman merendah.

    “Yasudah kalau begitu kami pamit dulu, assalamualaykum…” kata seorang yang sejak tadi hanya tertegun dan tak berbicara apapun.

    “Belum juga minum, sudah pada pamit.” Teriak bibi menuju teras, tempat paman meladeni tamu-tamunya yang datang tanpa mengucap salam.

    “Tak perlu bu surya… sudah hampir maghrib…” Lanjut orang tadi.

    “Oh.. yasudah wa alaykumussalam..” Jawab Bibi. 

  Beriring lantunan ayat-ayat suci al-qur'an yang dibacakan seorang marbot masjid, yang diperuntukkan untuk menyambut waktu sholat maghrib,Para tamu tamu paman menuju rumah mereka masing-masing.angin begitu semilir kala itu.Seakan berusaha untuk meredam amarah anak- anak asuh paman surya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar